Selasa, 17 Desember 2019

NATAL SA RESORT HKBP SIMANGAMBAT DI HKBP SIGOLANG.


NATAL SA RESORT HKBP SIMANGAMBAT DI HKBP SIGOLANG.

Meliput dari jauh, dari Jakarta, kegiatan Natal sa REsort HKBP Simangambat di Sigolang, tentu menarik dari keseruannya.

Adalah sukacitaa yang luar biasa bagi jemaat HKBP Sigolang, mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Natal 2019 Satu Resort.Hari Sabtu, malam tanggal 15 Desember 2019, Ini patut dicatat sebagai sejarah, puncak perhelatan Natal yang biasanya hanya satu huria.

Natal tahun 2019 ini, dihadiri tentu oleh Pendeta Redsort, Huria Simangambat, Sipagimbar, Ulumamis, Damparan, Hutarame, dohot naasing yang tidak saya sebut. Apa saja yang terjadi, rundown acara, tentu tidak dapa saya liput dari Jakarta, hanya dapat cerita dari ito Yeanne Pasaribu, mengatakan acaranya ramai dan gembira sukacita semuanya.

Dengan dipasangnya Lilin listrik yang megah dihalaman, menambah meriahnya penampakan waktu malam. Dimana nampak lilin besar menjulan, dengan warna warni lampunya. Ibarat Gereja itu tampak dikota besar, bukan seperti di Sigolang yang dahulu. Saat ini berubah. Ini hasil kreasi dan kerjasama Jemaat perantau yang muda muda. Terimakasih ya bagi kalian yang punya ide dan gotong royong untuk pembiayaannya. Ternyata kita bisa jika kita bersatu didalam semangat kasih Tuhan Yesus Kristus.

Sukses ini tidak lepas dari kerjakeras jemaat yang dipimpin oleh Guru Huria Z.Hasibuan dengan didukung semua Parhalado dan jemaat yang selalu baik hati mau menyiapkan konsumsi semalam sebelumya. Gotong royong di Gereja, nampak dari foto bersama naposo bulung, memasak lauk pauk untuk besoknya. Ini tradisi yang luar biasa, harus dipertahankan oleh masayrakat HKBP Sigolang.

Selmat hari Natal 2019 dan jelang Tahun Baru 2020.

Ronsen LM Pasaribu.

Minggu, 24 November 2019

TAGOR TAMPUBOLON, SANG KOMPONIS BATAK MASA KINI Oleh Ronsen LM Pasaribu

TAGOR TAMPUBOLON,
SANG KOMPONIS BATAK MASA KINI
Oleh Ronsen LM Pasaribu
Sebagai pemerhati dan pecinta lagu-lagu batak, Undangan 35 Tahun : Tagor Tampuboolon berkarya, dibawah tag line “Tangiang ni Dainangi” di Toba Dream, Jumat 7 Juli 2017, pukul 19.00 WIB tidak saya sia-siakan. Rasa penasaran mendorong diri saya untuk berkorban, pergi menonton karena ekspektasi kepuasan mendengar penyanyi-penyanyi papan Atas segmen lagu batak seperti Victor Hutabarat, Joy Tobing, Margareth Siagian, RNB Trio, Buntora Situmorng, Tagor Tampubolon sendiri, dan lainnya seperti The 2 Ins (anak Eddy Silitonga,Alm), Family Trio dengan MC Vanda Hutagalung.
Ruangan Toba Tabo dengan tehnologi yang peringkat atas di rumah panggung di Jakarta, seakan menyempurnakan semua stage seniman batak kali ini. Dan, penikmatnya lagu batak, juga tampak penuh, seperti Otto Hasibuan, Syukur Nababan, Nurdin Tampubolon, Berlin Tampubolon, Ronsen Pasaribu, dan banyak lagi yang saya tidak mengenalnya berbaur, tak bergeming sejak awal sampai akhir.
Lahir di Huta Panombean, 12 Juli 1959, dari keluarga seniman, ayahnya Fridolin Tampubolon dan ibu Rency br Simanjuntak, mengawali nekat ke Jakarta tahun 1976.  Bercita-cita jadi orang berhasil dibidang seni musik dan cipta mencipta lagu. Sosok Johannes Purba, sang idola yang banyak memberi ilmu seni dan cipta mencipta lagu.
Usia 18 Tahun, mencipta lagu yang dibawakan Eddy Silitonga dengana judul “Poda”. Ini pintu pandora bagi beliau, mencipta lagu berikut karena mendapat pengakuan masyarakat. Berikut meluncur lagu-lagu lain semuanya menjadi “hits” seperti “anakkonhu” oleh Hutauruk Sisters, “Didia ho Among” oleh Nur Afni Octavia, “Butet” oleh Eddy Silitonga, “Alani hot oleh Ade Manuhutu, “Inangku oleh Diana Nasution”. 
Namun demikian, Victor Hutabarat yang paling banyak membawakan lagu Ciptaan Tagor Tampubolon seperti : Tangiang ni Dainang, lalu Rita Butar-butar duet dengan Jhony Manurung “Nadua gabe sada”.  Dalam perkembangan, lagu Tigor ini menjadi lagu yang dibawakan papan atas Indonesia seperti Edo Kondologit (Papua) dan Herman Delago (Austria) membawakan lagu Poda dengan Aransemen Vicky Sianipar. Trio Ambisi, Trio Lamtama, Trio Alexis.
Seorang Tagor Tampubolon, selain menciptakan pop batak, juga lagu-lagu Rohani, khusus untuk HKBP.  Misalnya yang hits yaitu lagu “Partondion oleh Victor Hutabarat” dan “Ompu Nomensen oleh Sembilan Pencipta lagu’.  Catatan ini hanya beberapa yang hits, namun masih ada “enam ratusan” yang beredar dalam bentuk CD dan VCD sampai saat ini.
Menyaksikan penampilan malam ini, patut para hadirin dan termasuk saya mengucapkan “selamat  dan apresiasi” atas seorang Pencipta lagu yang sangat produktif, dengan jalur musik yang populer diterima oleh semua segmen pendengar, tua muda dan anak anak sekalipun senang dengan lagu ciptaannya. Malam ini, yang mencuri perhatianku yang paling besar adalah Tangiang ni Dainang dibawakan Victor Hutabarat, Didia ho Amang dibawakan Joy Tobing.
Dalam catatan saya, Tagor Tampubolon sudah bisa disejajarkan dengan Komponis pada jamannya, yaitu Nahum Situmorang, S.Dis dan Rinto Harahap. Ketiganya sudah almarhum tapi ciptaannya selalu dinyanyikan di segala acara.
Ciptaan S.Dis dengan lagu monumental “O Tano Batak, Borhat ma dainang, Boasa dung Bot Ari, Adong huida sada bunga, dan lainnya dimana proses penciptaannya selalu didiskusikan dengan Nahum Situmorang, baru dinyanyikan oleh Keluarga. Setelah itu baru dinyanyikan ke umum. 
Demikian diceritakan Alm Ny. Nurmala Sitompul-Panjaitan kepada saya waktu beliau hidup. Lagu lagu itu, banyak dinyanyikan oleh sang Cucu yang kita kenal dengn penyanyi papan atas juga di lagu batak dan populer “Christine Panjaitan”. 
Dengan melihat produktifnya pencipta lagu batak, sejak Nahum Situmorang, S.Dis, Ismail Hutajulu, Soaloon  dan banyak lagi dan terakhir Tagor Tampulonon. Membuat kita optimis trend lagu batak akan bergerak meningkat terus sebagai upaya membangun budaya seni dan produksi lagu-lagu yang mampu mendongkrak kesejahtraan musisi orang batak. Ini missi beliau yang disampaikan ke saya, dalam bincang malam hari itu. 
Sedang realitanya, pandangan pessimis selalu muncul dari musisi orang batak. Akar masalahnya bukan karena orang batak tidak senang lagu batak, bahkan sangat disenangi namun industri musik ini yang belum menemukan formulasinya. Bajakan hak cipta yang menghantui, pembayaran hak cipta yang tidak diindahkan, termasuk regulasi hak ciptanya termasuk pengawasan dari aparat hukum yang masih sangat lemah. Kapan bisa diatasi kompleksitas permasalahan ini?, perlu gerakan massal bagi semua stake holder, menurut saya.

Saran buat Seniman masa kini.
Asa masih kita kibarkan, sepanjang kita masih senang seni musik, selama itu kita berharap musik itu eksis, maju dan profesional sehingga kelak suatu ketika, setiap lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi dalam even komersil akan otomatis bisa di bebankan pajak dan transfer otomatis kepada pencipta. 
Seniman bisa menerimanya dalam bentuk pensiun sampai meninggal, seperti apa yang dialami oleh sahabat saya, Thomson Napitupulu, yang berkecukupan menikmati hasil karyanya selama aktif di bidang Seni di Perancis, luar Negeri dimasa pensiunnya. 

Model ini sebagai raw model dibidang budaya kesenian ini harus kita bangun, supaya bakat seni suara dan musik lagu batak bisa menjadi bidang profesional sumber hidup dan penghidupan pelaku seni ini. Penikmat lagu juga perlu di didik menghargainya dengan membayar hak cipta setiap melagukan lagunya di tempat komersil.
Jayalah Musik Indonesia, Jayalah Musik Bataak, Jayalah Seniman Batak.

Jakarta, Selasa, tanggal 11 Juli 2017. Pkl. 20.20 WIB. repost tanggal 25nOvember 2019. www.ronsenpasaribu.com.

Jumat, 22 November 2019

KOMENTARKU TENTANG HUTASALEM DI FACE BOOK

KOMENTARKU TENTANG HUTASALEM DI FACE BOOK



Hutasalem dulu dan sekarang sudah berbeda amang inang. Dahulu, rehabilitasi penyakit kulit (RMG) yang butuh lahan luas. Tapi sejak kita Merdeka, penguasaan fisiknya oleh Pemerintah Pusat, dan 1954 diserhkan secara administratif ke HKBP. Masalahnya, sejak 1945 -1954 bahkan seterusnya tidak kunjung diserahkan ke HKBP. Walau didalamnya ada Gereja.

Mengingat Kusta sudah boleh dikata tidak ada lagi, maka sekarang dialihkan menjadi Dinas Sosial oleh Gubernur. Sedangkan seluas 10 Ha, tetap digunakan perumahan keluarga eks Kusta yang berasal dari berbagai daerah.

Kami sudah tinjau ke lapangan, seluas 10 Ha diserahkan ke HKBP untuk kegunaan bagi binaan penyakit buta. untuk pembibitan dan kopi. sedang sisanya, 50 Ha, digunakan pertanian oleh eks kusta dan keluarga atau orang lain yang belum teridentifikasi, sebab dalam kendali Pemerintah Provinsi Sumatra Utar.

Saat audien dng Gubernur, disampaikan keberaan HKBP tanah tersebut dijadikan aset Pemprov, sampai sekarang pun sedang diadakan perlawanan/blokir di BPN.

Papan maklumat oleh HKBP sudah dibuat digerbang tidak boleh masuk selain HKBP namun nyatanya belum secara fisik kita kuasai.

Mohon doa dan dukungan, lahan ini semuanya kita kuasai. Lahan yang bgt subur akan cocok untuk buat Asrama pendidikan berbagai sekolah di lingkunan HKBP. Guru Sekolah Minggu, Diakonis, bahkan apapun cocok disana. Terimakasih, atas banyak masukan dan pertanyaan yang sangat beragam diatas kepada kami, Badan Pemulihan Aset HKBP Pusat. RP.

Rabu, 20 November 2019

JEMBATAN AEK SIPANGE.

JEMBATAN AEK SIPANGE.

Satu satunya sungai yang membentang dari puncak gunung bukit barisan dilembah beberapa Desa, Situnggaling, Ulumamis, Tolang, Sigolang, Sipange, Tapus dan selanjutnya ke Aek Bila, adalah Sungai Sipange.

Karena sungai ini yang terbesar, maka persoalan muncul jika membangun jalan mulai makadam, tanah dibatu, pasir dan aspal. Terakhir jika aspal sudah rusak maka beberapa potong di semenisasi. Masalah yang timbul aalah soal jembatan, karena airnya besar. Mungkin dana untuk jembatan itu sangat terbatas, namun jika jembatan kokoh, maka jalanan akan relatif mudah diperbaiki atau dilalui kenderaan.

Adalah berita yang sangat kita bergembira, petinggi Kecamatan Aek Bila, bapak Saddar Pasaribu dalam komentarnya, seperti ini : "Kita pastikan aesipange akan dibangun jembatan plat betonrekonteuksi bulan pebruari 2020akan dimulai imfo dari pu provinsi".

Jika hal itu benar, maka ada beberapa Jembatan yang krusial perlu diperbaiki, pertama di Situnggaling, kedua antara Biru-Sigolang, setelah menurun terjal dimana jembatannya sempit dan mengkhawatirkan kadang kadang jika truk melewatinya, ketiga di Sipange, ini yang terpanjang jembatan itu. Selebihnya di wilayah Tapus, sebelum bermuara di Aek Bila.

Ketikan tanpa di edit ini, bisa kita baca dan sekaligus bedoa agar informasi ini benar benar terwujud. Hidup pak Camat dan Bupati Tapanuli Selatan, keduanya dongan Tubuku, Pasaribu. Saddar Pasariboe dan Bupati pak Pasaribu juga.

Salam disertai doa dari kami perantau yang selalu mendambakan bagusnya jalan agar kami pulang kampung, untuk melepas rindu dengan sanak keluarga dan membangun hutanabe, Martabe.

Jakarta, 21 November 2019. RP. www.ronsenpasaribu.com


Selasa, 19 November 2019

MENGGUNAKAN FASILITAS KARTU INDONESIA SEHAT


MENGGUNAKAN FASILITAS KARTU INDONESIA SEHAT

Jika saya menoleh kebelakang, selama bekerja, ternyata gajiku selalu dipotong uang Asuransi Kesehatan, yang dirubah nama programnya BPJS sekarang ini. Pungutan itu secara otomatis. Jika saya sekarang ini pensiunan pada Golongan IV E, maka rumah sakit yang dapat digunakan adalah kelas I.

Namun, selama ini jika saya sakit atau berubat, selalu berfikirnya mana tempat dokter yang paling bagus, bergitu juga rumah sakitnya. Sampai sampai saya hafal, bagaimana mencari rumah sakit dan dokter yang paling baik, yang mampu menyelesaikan keluhan selama ini. Sakit kers dan sakit ringan, selalu pergi ke rumah sakit yang ternama, baik di Surabaya, Jakarta bahkan ke Island Hospital, Penang Malaysia. Bahkan pernah ke Elisabeth Hospital Singapore.

Itu dulu, ketika akttif, beda dengan sekarang. Saat pensiunan, ditengah berjalannya usia sudah katakana 64 tahun, kesehatan itu menjadi issue menonjol saat ini. Sudah barang tentu, biaya kesehatan ini cukup signifikan besarnya. Karena itu saya dan istri berketetapan hati untuk memanfaatkan BPJS yang kebetulan teramat sering disampaikan oleh masyarakat dan Presiden Jokowi.

Terbayanglah yang tidak tidak kedepan ini, seumpama menyaksikan kawanku almarhum Shinta br Siegar yang cuci darah dua kali seminggu, tanpa beban berat karena menggunakan fasiltas BPJS. Itulah yang memotivasiku dengan mengajak istri, hayo kita urus BPJS kita, perpindaha dari Surabaya ke Jakarta.

Mengurus kartu BPJS, tidak mudah sekarang ini. Surat Keterangan hilang kepolisian menolong jika berkas tak Nampak sebagai syarat. KARIP, hilang, hanya dibah 5 minit sudah selesai. Keterangan Kehilangan di Kepolisianpun tak butuh waktu lama. Mengurus BPJS di Wilayah Jakarta Baratpun,cepat. Terasa sekali ada perubahan pelayanan itu, terasa bagi masyarakat yang membutuhkan.

Syarat dan ketentuan BPJS,  Kartu Peserta harap dibawa ketika berubat, apabila kartu disalah gunakan akan diberikan sanksi; apabila ada perubahan atau kehilangan Kartu segera lapor ke kantor BPJS Kesehatan setempat. Pusat layanan informasi BPJS Kesehatan 1500400. www.bpjs-kesehatan.go.id.

Nah, hari ini, saya dan istri mencoba, dengan tahapan pertama di Puskesmas terdekat. Ada dokter umum,  registernya pun sudah on line. Mereka semua memakai HP memonitor sejak Puskesmas sampai ke Puskesmas Kecamatan untuk mengecek darah, dan jantung.

Permasalahan hanya pada kesabaran untuk antri dengan ratusan masyarakat yang mengurus dana tau berubat di Puskesmas, dengan KIS. Sabar mengantri, itu saja. Anggap dan gunakan berbincang dengan sesame masyarakat menambah kenalan serta menambah luas pengetahuan kita atas penderitaan orang lain.
Hari ini, periksa darah, gula, trigiselirt (kekentalan darah), darah tinggi, dan rekam jantung. Adalah penyakit lamaku untuk kekentalan darah ini, yang memerlukan harus makan obat secara terus menerus. Hampir semua bagus, kecuali dua yaitu trigiselirt dan gula pasca dua jam makan. Ini info baru bagi saya. Sehingga harus lebih ketat mengurangi makan yang mengandung gula. Namun tetap olah raga dan minum air putih saran utama kedepan ini.

Yang jelas, sejak sekarang saya sudah terbebas untuk biaya pengubatan, sampai kapan pun diperlukan. Asalkan ada fasilitas BPJS. Catatan saya hari ini adalah betapa indahnya konsep kesehatan ini, kenapa tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Seandainya saya ke rumah sakit, maka uang Rp. 5.000.000,00 lebih harus sudah keluar, sebab cek darah, cek jantung dan obat obat yang terdiri 5 jenis sudah saya bawa dengan semuanya GRATIS, alias yang bayar adalah Pemerintah.
Himbauan, agar semua kita menggunakan BPJS, karena terasa sangat menolong kita. Untuk apa gengsi, malu atau merasa rencah jika kita menggunakan BPJS?. Jika ada pada diri saudara, hal semacam itu kurang tepat. Mari sehat, saya sehat, istri sehat maka anak cucu akan senang.

Jakarta, 20 November 2019. RP.

Senin, 18 November 2019

MAGODANG AEK SIGOLANG.

MAGODANG AEK SIGOLANG.

Sebuah cerita derita penduduk Sigolang yang hampir semua petani, ketika Aek Sigolang banjir. Istilah lokal, magodang aek.

Magodang aek, lebih halus bahasanya dari Banjir. kalau Banjir, pastilah menyusahkan petani kita. Susah karena airnya menerjang apa saja yang dilaluinya dengan volume yang berlebihan.

Apa saja akibat kalau ada aek magodang?. Jika hujan datang berturut-turut sehari saja, hati hati, petani harus cepat cepat pulang, sebelum datang banjir.

Semua akan susah, misalnya dia akan "haboroan", tak bisa melewati sehingga dengan terpaksa menginap satu malam. Jika sopo atau bangunan di sawah bagus masih mending, jika terbuat dari papan ada kamarnya masih enak tidut. tapi kalau tidak. Dingin dan basah, tak ada yang bisa dibakar, semua serba basah. itulah suasana susahnya jika haborotan di sawah.

Ada tingkat yang lebih parah, yaitu menerjang pinggiran sawah yang berliku menjadi lurus dibuat air itu. Ini yang menyedihkan. Sawah yang sudah puluhan tahun, diterjang habis, akhirnya luas sawah jadi berkurang. Sebaliknya sungai, semakin luas.

Kedu, tahalak atau "dam" yang dibangun untuk menahan agar air bisa naik, mengaliri saluran air. kPanjangnya tergantung jauh dekatnya ke sawah yang ketinggiannya relatif dibawah. oleh karena itu harus dibuatkan dam, rata rata terbuat dari batu besar. JIka hujan datang, tahalak atau dam ini diterjang jga. ini pertama yang terpikir bagi petani, apakah tahalaknya rata?. Jarang petani menangis jika ada kejadian ini, kenapa?. Karena petani di Sigolang sudah terbiasa mendapatkan musibah alam seperti ini.

Kedua, tahalak atau "dam" yang dibangun untuk menahan agar air bisa naik, mengaliri saluran air. kayu-Panjangnya tergantung jauh dekatnya ke sawah yang ketinggiannya relatif dibawah. oleh karena itu harus dibuatkan dam, rata rata terbuat dari batu besar. JIka hujan datang, tahalak atau dam ini diterjang jga. ini pertama yang terpikir bagi petani, apakah tahalaknya rata?. Jarang petani menangis jika ada kejadian ini, kenapa?. Karena petani di Sigolang sudah terbiasa mendapatkan musibah alam seperti in
bekas Aek magodang, sering kuliat waktu masa kecilku, jenis kayu dan biji-bijian kayu. Masih segar ingatanku, kayu tusam yang bisa dibakar untuk penerangan. Paske, biji yang digunakan untuk bermain paske. Waduh ternyata masa kecil, walau musibah yang daang, sekejap ada sukacita kalau menemukan benda benda aneh yang sulit didapat.

Jika dipikirkan leih jauh, akar masalahnya sebenarnya adalahkarena di hulu banyak yang menebang hutan. sehingga air tak ada yang menahan atau paling tiddak airnya cepat meluncur. seperti air tumpah. Inilah masalah yang harus dianggap musuh bersama terutama kampung Ulumamis yang berada di hulu, berakibat di hilir yang merasakannya.

Magodang aek, sebuah fenomena lingkunan yang tidak disuka tapi sebuah cerita suara alam yang tidak populer namun apa daya itulah beria kepada kawan, ibarat lagu Ebit G Ade, yang berpesan jangan memperkosa alam. Hargai, pelihara sebab disanalah sumber kehidupan kita.
Jakara, 19 November 2019 pkl. 01.42 WIB. RP.

Selasa, 12 November 2019

MENGENAL SEKILAS SANG GUBERNUR SUMUT, BAPAK EDY RAHMAYADI.


Disela acara pembukaan Ulos Fest 2019, di Gedung Museum, RI, tanggal 12 Nov 2019 pkl 10.00 WIB, Gubernur hadir, tidak hanya membawa ulos 500 M MURI Ulos terpanjang, dan penari terlatih dari Humbahas, namun memberikan sambutan dan key notes speaker sekitar 30 minit.

Semua tertuju dari ucapan beliau, kata perkata dicermati oleh hadirin yang hampir semua perantau yang tinggal di Jakarta.

"saya berbicara dihadapan orang Jakarta, bukan orang yang tinggal di Sumut". Nampaknya, kesan beliau ada sesuatu yang terpendam bahwa jika datang ke kampung halamanmu, bawalah yang baik baik, marsipature hutana be. Saya mendengar, banyak yang membully saya, tak apa. Sekarng pun saya curhat, sebenarnya saya baik, saya orang Sumatra Asli, saya suku Melayu beristri br Lubis, jelas orang batak.

Orang Jakarta banyak yang tidak saya senang, karena tidak mendukung saya. Nah, pertemuan hari ini berharap agar pertemuan kecil ini, saya manfaatkan untuk bertemu, curhat apa yang saya harapkan dari orang batak di Jakarta ini.

Setahun, saya belajar, apa yang terjadi. Oleh karena itu, tiba pada kesimpulan, mari kita membangun Sumut kedepan. Jangan lagi membully. Karena yang terjadi,dikantara kita kurang informasi. Bagi saya, agama adalah pilihan. jadi, tidak boleh agama digunakan alasan untuk kita bersama sama. Saya punya hubungan yang sangat erat dengan orang batak. yang menjadi kodrat adalah suku. itu bukan pilihan. jadi kita tak boleh gunakan itu untuk tidak bersatu.

Batak Center, ternyata bisa menjembatani itu semua. Kedepan, saya ingin lebih besar panggung ini dengan peserta yang lebih luas lagi.

Nah, keterbukaan itu, kami gunakan disela kesempatan sempit dengan sang Gubernur saat rehat di kursi. Ketum FBBI dan Sekjen, berfoto dan bincang sepertlunya. Ya, kita ketemu di Medan kita bicarakan bersama, begitu jawaban beliah ketika perkenalan FBBI dengan penjelasan bahwa FBBI ormas "pemberdayaan masyarakat di Bonapasogit, yang pernah melaksanakan Pelatihan Perhotelan 3 hari di Samosir.

Jadi kesimpulannya, kesan Gubernur keras, berpihak, bagi saya sudah sirna. Beliau, tegas karena tentara, tapi hatinya lembut dan menunjukkan kebapaan dari semua suku dan agama masyarakat Sumatra Utara maupun para perantau.

Semoga, rencana audience dengan beliau terlaksana setelah kepengurusan DPD FBBI Propinsi Sumatra Utara, selesai agar sekaligus berkenalan dengan meminta arahan seperlunya..

Hidup Ulos Fest 2019. oleh Batak Cener, sebagai organisasi yang khusus mengeksekusi kegiatan Habatahon yang didirikan atau digagas oleh dua ormas yaitu FBBI dan YPDT. kemudian ditengah perjalanan, bergabung Forum Peduli Bonapasogit yang dikomandoi oleh Ketum BC, M Tampubolon.

Jakarta, 13 Nov 2019, RP.