Jumat, 03 April 2020

CERITA DIBALIK STAY AT HOME


CERITA DIBALIK STAY AT HOME

Hari ini, Sabtu tanggal 4 April 2020, empat belas hari terlewati sudah saya dan keluarga tinggal dirumah. Pemerintah sudah memberi peraturan ke setiap warga, tinggal dirumah, jaga jarak, cuci tangan bersih diair yang mengalir, berjemur memanfaatkan iklim tropis Indonesia, bekerja di rumah dan berdoa di rumah. Itulah cara terbaik, mengisolasi diri manusia agar tidak menjadi oknum carier Virus CV-19, bagi orang lain.

Nah, akibatnya apa?. Saya hampir terjebak pada rutinitas, kebosanan, kejenuhan bahkan khawatir menjadi imunitas menurun sebagai akibat “hukum gosen” penurunan nilai ketika menggunakan atau mengkonsumsi berulang-ulang makanan yang sama. Ini serius, menjadi persoalan yang baru, ketika melakukan perintah diatas.

Tinggal dirumah, dengan turunan aktivitasnya, memaksa kita juga untuk keluar dari aturan stay at home akibat diperlukan membeli makanan atau bahan makanan. Jadilah ibarat orang yang ketakutan luar biasa, menjalankan protocol kesehatan. Sejak pintu, sandal buka, semua yang melekat dibadan lepas, cuci semua dan mandi dengan melepas sarung tangan plastic, masker dan topi. Topi dan sandal, jemur dulu memastikan virus bila memang melekat agar mati.

Sebagai pensiunan, saya tidak lagi terikat bekerja rutin di kantor sebagaimana dahulu kala. Namun, ada saja yang harus saya kerjakan sendiri, baik pekerjaan orderan maupun inisiatif menghilangkan kebosanan tadi.
Pekerjaan yang diberikan oleh pebajat di Istana presiden (KSP), sebuah kajian permasalahan tanah di Papua, dengan cepat selesai dan dilaporkan melalui sarana email. Semoga berguna, bisa bantu masalah krusial di Papua sana.

Rapat rapat On line, guna mempersiapkan program penggalangan dana yang kami laksanakan dengan judul Batak Bersatu Melawain Convid-19, sudah mulai bergulir. Tujuannya, untuk melindungi orang batak di Batak Raya, dari serangan Virus mematikan ini. Beberapa organisasi batak di Jakra berhimpun, mulai dari YPDT,FBBI,FPBT,LABB dan Batak Center sebagai tuan rumahnya. Tugas sebagai Ketua, tidak bisa saya hindarkan, karena begitu kuatnya dorongan kawan kawan agar saya yang pimpin peperangan ini. Ini tugas yang tidak ringan, memohon kerjasama dan doa dari semua pihak.

Tugasnya membuka rekening, menghimpun dana melalui on line atau transfer ke bank yang ditunju, melakukan survey kebutuhan, merekap, mengorder ke pabrikan, mengklasifikasi sesuai permintaan dan mengirimkan. Dalam pelaksanaan, harus ber koordinasi dengan Pemerintah setempat agar memastikan gerakan ini juga membantu pemerintah sekaligus, dalam meringankan beban pemerintah guna menyelamatkan rakyatnya. Qualitas produk, wajib memenuhi standar, bersih, dan tepat sasaran. Ada lima produk yang akan disalurkan.

Panitia, bekerja memfasilitasi sebelum masyarakat terkena. Oleh karena itu diperlukan tetap kerjasama dengan orang batak, agar taat aturan yang sudah ditentukan pemerintah. Sosialisasi akan kita lakukan melalui sarana yang ada. Soal rehabilitas yang sudah benar benar terpapar, bukan lagi tugas panitia tetapi melekat pada tugas pemerinah.

Cerita dibalik stay at home, menarik juga dicatat disini sekedar mengisi waktu juga dan rekaman suatu saat berguna dihari kemudian.

Pertama, saya dan istri, membaca Alkitab. Terus terang, ada hikmah dibalik corona ini. Lebih dekat pada Tuhan. Berdoa, bernyanyi dan membaca nats. Kebetulan saya punya alkitab yang tebal, lengkap dengna uraiannya memudahkan memahami ayat tersebut disertai penjelasan tertulis serta petanya.
Kedua, hiburan menonton Video Youtube, hampir semua saya lalap. Mulai Teka Teki Sulit, Cak Lontong, karena memakai otak dan diwarnai riang gembira dan lucu yang kental sekali. Lagu lagu lawas, sampai Pop, juga Vestival Lagu lagu 10 Spektakuler A.S yang luar biasa. Juga ada film Bajai Bajuri, Lawak Batak Nai Malvinas, Jack Marpaung group dan lagu-lagu top yang saya sukai. Broury Marantika, Christine Panjaitan, Pance Pondaag, Bee Gees, Joy Tobing dengan lagu Seandainya, ciptaan Rito Harahap yang dibawakan juga Rita Butar-Butar dan lainnya.
Ketiga, makanan yang itu itu saja jadi problem. Semula tahu tempe jadi vavorit, akhitnya Tahu bosan. Baunya saja mulai bosan, tempe lumayan. Sambel Terong, juga mulai bosen. Daging, jadi andalan. Tapi masaknya di rendang melulu. Ikan teri jadi penyeimbang, dengan sambel pedas. Sop juga jadi solusi, sesekali super mie/bakmi kuat atau goreng, walau juga jarang karena stigma tidak sehat kalau sering. Nah, Telor goreng jadi pilihan juga, mengatasi kebosanan makanan yang ada.

Keempat, minum, mulai dari yang ber vitamin C, seperti Markisa, Jeruk dan Kopi. Kopi ini menjadi ketagihan pada masa karantina ini.

Kelima, berita, telfon sana sini, menjadi pilihan sebelum ngantuk menyerang. Nah, problemnya jika mau tidur. Nyonya masih mau nonton, sementara saya mau tidur. Walau sebentar. Kuat kuatan berargumenlah, akhirnya tertidur juga, dua duanya sambal TV nya yang menonton kami.

Bagaimana dengan  obat?. Tentu ini yang tidak boleh kelewatan. Wajib, minum. Kalau tidak anak anak selalu ingatkan, saat melakukan Video Call dengan anak mantu. VC ini terkadang seperti Teleconfrence. Berdoa jarak jauh. Kami orangtua di Jalan Departemen Agama , Jakarta Barat, Fritska Emelia Diniovi di Inggris, Sando/Dian, Christy dan Marcia di Apartemen Kalibata, Jakarta Selatan, Dior/Cindy/Clare di Apartemen Kalibata, Benny suami Christy di Sorong Papua Barat, Yuri  di Bekasi. Semua selalu berkomunikasi, memantau kondisi orangtuanya, kadang mereka mengirim perbekalan dalam jumlah yang banyak dan peralatan Alat Kesehatan. Luar biasa anak anak kami. Semoga semua jadi pemenang dalam cobaan ini.

Melalui telfon saya, monitor saudaraku di tempat yang jauh, Anne dan keluarga di Simangambat, Ida dan keluarga di Humbahas, Saut dan keluarga di Surabaya, Nurliani dan keluarga di Medan, Kalara dan keluarga di Jakarta Timur. Sampai sekarang clear.

Demikian catatan, dibalik Stay at Home. Tuhan menyertai kita semua, dan saudaraku yang turut membaca catatan ringan ini.
Jakarta, Komplek Depag, Jakarta Barat, DKI,
4 April 2020, pkl, 11.36 WIB.
Ronsen Pasaribu, Bapak Sando, Ompu Marcia br Pasaribu.

Rabu, 18 Maret 2020

MENDISKUSIKAN STATUS PERANTAU DAN TIDAK PERANTAU YANG TINGGAL DI BONAPASOGIT.


MENDISKUSIKAN STATUS PERANTAU DAN TIDAK PERANTAU YANG TINGGAL DI BONAPASOGIT.
Z Ritonga
15 Maret pukul 19

AHADO LAPATAN,RINCIAN NI HALAK=ANAK SIGOLANG..???
4Yeanne Pasaribu, Z Ritonga dan 2 lainnya

    Willyam Dongoran Dongoran
    Willyam Dongoran Dongoran Knapa saya bingung ya dngan pernyataan ini😁😁😁😆😆
    Z Ritonga Willyam Dongoran Dongoran kmu bingung karna kmu kurang mencerna n kurang menelaah sebuh kalimat😊😊😊
Z Ritonga Saya coba ber intraksi pada seseorang(yg katanya dia org sigolang)
Saya:tahun depan saya akan garap tanah akasia ini utk tanam padi n kopi.
Baluhap:unang jama2 i..kmu bukan orang sigolang lagi.…Lihat Lainnya

Z Ritonga Baen bo Willyam Dongoran Dongoran.

Willyam Dongoran Dongoran
Willyam Dongoran Dongoran Z Ritonga 😆😆😆 ajarin dong pak😂😂😂

Willyam Dongoran Dongoran
Willyam Dongoran Dongoran Z Ritonga ulang sai baen jo na krusial2, inda haru paham au,, akka sisongon songonon ma, alah... Inda hru targiling ususku on haram bo😂😂😂
Zerit 1.Bisa dak orang Indonesia yg berdomisili di luar negri otomatis jadi orang luar negri?
2.Bisa dak orang sigolang yg berdomisili di Surabaya, jadi tidak anak Sigolang ( Orang sigolang)?
Kenapa ada kata merantau?…Lihat Lainnya

Willyam Dongoran Dongoran
Willyam Dongoran Dongoran Zerit nagohan pertanyaan ni amamg boru on bingung iba😁😁😁

Willyam Dongoran Dongoran
Willyam Dongoran Dongoran Z Ritonga apakah anda sudah puas dengan pernyataan di bawwah? 😁😁😁..hayo...?

Z Ritonga Willyam Dongoran Dongoran mlo makkatai guru ikkon iloppit do tangan...harana guru mambaen napadede dohot mambangun🙏🙏

Willyam Dongoran Dongoran
Willyam Dongoran Dongoran Z Ritonga 😁😁😁...ma nyus.....


Ronsen Mangaratua Pasaribu
Ronsen Mangaratua Pasaribu Anak Sigolang.

Lahir, besar di Sugolang. Orang tuana di Sigolang.

Aset tano di Sigolang.

Nangpe.merantau, halak Sigolang. Perantau dari Sigolang.

Soal.hak dan.kewajiban.

Betul.kita tidak ber KTP Sigolang, tentu tidak.punya hak dan kewajiban memilih Kepala Desa, Memilih Camat, Memilih Gubernur tapi.memilih Presiden bisa. Tergantung cakupab wilayahna.

Namun oleh Keputusan.Mahlamah Konstitusi, Perantau bisa.punya hak untuk dianggap.sebagai.masyarakat Sigolang dan punya hak dipilih menjadi Kepala Desa.

Maka ada perantau.bisaa jadi.Bupati, Kepala Desa, sekarang ini walau dia sudah.ber KTP di tempat perantauan.


Jika konsep.Marhube. Itu jelas punya hak dan.kewajiban sebagai anggota karena kegiatannya berkaitan dengan Partisipasi Pembangunan yg melibatkan.potensi perantau.

Jika.sumbangan, siapapun apalagi perantau.

Ini.pertanyaan yg bagus dan.kritis.dari Lae Z. Ritonga.
    Z Ritonga Ronsen Mangaratua Pasaribu maksih pencerahannya tunggane..yg notabene mengubah pola2 pikir masarakat huta sigolang(melalui pencerahan yg super),terutama yg tinggal dibona pasogit.yg sering membuat asensi2 yg tanpa didasari pola2 pikir yg mempersatukan n saling memajukan antara satu dgn yg lainnya..dgn pencerahan tunggane masarakat sigolang makin makmur dan berjaya.

Ronsen Mangaratua Pasaribu
Ronsen Mangaratua Pasaribu Z Ritonga Aset kita kan tidak.kita bawa. Tetap.di Sigolang. Jadi itulah bukti.kitawa tidak.bisa di.pisahkan dari Bonapasogit.kita.

Jika ada yg menganggap kita bukan orang Sigolang lagi, ya salah besar.

Hanya KTP ya betul.bikan karena 4 bulan berturut turut disuaru daerah wajib melapor.dan mendaftarkan.kependudukannya. Itu Undang Undang.

Kepemilikan Sigolang semua yg tinggal.maupun perantau.

Perantau itupun tentatif, sekarang merantau, besok.lusa kalau keadaan memaksa, ya kembali.ke pangkuan.ibu pertiwi Sigolang.
Z Ritonga Ronsen Mangaratua Pasaribu "SUPER"tunggane.

Ronsen Mangaratua Pasaribu
Ronsen Mangaratua Pasaribu Lajimnya konflik pertankahan akan hadir jika terbatasnya tanah pertanian maupun pemukiman, sementara generasi mudanya berkembang cepat. ladang yang adda, menjadi penting untuk ditetapkan batas-batasnya. saya coba masuk ke batas tanah ini waktu saya pulang bulan lalu. maksudku agar harmoni kehidupan yang sudah terbina selama ini, semakin dikuatkan, tidak ada masalah yang baru. tidak ada pergeserah batas tanah. sepakati, dengan bukti apapun boleh saja asal permanen. Lebih baik, sepakati batas yang baru, terserah kedua pihak. jika sudah disepakati, maka tetapkanlah.


Hal kedua, soal membuka lahan yang baru. Nah, ini juga pproblem bagi kita yang kebetulan berada pada wilayah register Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Sepanang sudah dibuka sebelum ketentuan register, itu adalah hutan adat kita, milik kita, mendapat pengakuan adat. Tapi bukaan akhir akhir ini, segala resiko ada pada yang membuka. Bisa saja tidak masalah selama belum dimasalahkan. maka usaha kita adalah agar dikeluarkan dari register.

Saya sebagai orangtua di Desa Sigolalng, tidak mau ada sengketa tanah di Sigolang. Kita bersaudara, satu dengan lainnya. Tanah yang sudah ada saja dikelola dengan produktif, sudah mampu menghidupimasyarakat Sigolang.

Masalahnya kita hanya mengolah tanpa menyuburkan tanahnya. suburkanlah dengan pupuk organik, jauh lebih baik. budayakan berkolam ikan ditempat tempat yang mengalir air. jangan ada pencurian apapun di Sigolang. sifat itu akan disidangkan di lembaga adat, Hatobangon ni Huta. Sidang adat ini saya harap dikembangkan. supaya harmoni hidup itu terjaga, tanpa ada curiga satu dengan lainnya.


Ronsen Mangaratua Pasaribu
Ronsen Mangaratua Pasaribu Lajimnya konflik pertankahan akan hadir jika terbatasnya tanah pertanian maupun pemukiman, sementara generasi mudanya berkembang cepat. ladang yang adda, menjadi penting untuk ditetapkan batas-batasnya. saya coba masuk ke batas tanah ini waktu saya pu…Lihat Lainnya


Ronsen Mangaratua Pasaribu
Ronsen Mangaratua Pasaribu Sedikit lagi soal status perantau. Relasi perantau dan tidak perantau, terbangun sedemikian indah, bisa dirasakan walau sulit di narasikan. semua perantau merasakan itu. Belum ada buku yang menulis pendapat ini secara lieratur. Namun, fakta sosial, itu juga ilmiah, kebenaran yang genuin, asri, asli sebagai produk budaya.

Artinya perantau dengan yg ditinggal dibedakan dalam keberanian individual mengambil resiko secara pribadi. perantau degan yang tidak merantau hanya soal pilihan yang sangat merdeka, dijamin Undang-Undang. Banyak motivasi perantau mengambil tindakan pergi entah kemana dia mau. jumlah alasan, sebanyak orang yang memutuskan ya saya akan pergi. sekalipun tidak punya modal pengetahuan terlebih uang. Hanya modal cita-cita, kekuatan fisik, otak dan berbekal nasehat orang tua. Satu lagi yang penting ddicatat adalah modal DOA KELUARGA YANG TINGGAL DI SIGOLANG.

Yaang membedakan hanyalah Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga dan tentu fasilitas yang diperoleh di perkotaan, yang dapat diperoleh perantau dari peluang baru, keberhasilannya dalam persaingan di kota tentu tidak dimiliki di Desa. Selebihnya, sama kita. Sama sama dalam bingkai keluarga. Apa pernah putus kekeluargaan?, ya tidak dong. Malah semakin mesra, rasa rindu jika kita berjauhan. Mungkin kalau semuanya tiddak ada yang merantau, malah akan terjadi gesekan. hayu nadonokdo marsiososan. itu pepatah nenek moyang kita. Kepemilikan tanah, takka putus. sadari itu. status sosial juga takkan menjadikan kita berbeda, karena harta tidak harus membuat kita berubah. tetaplah kita martarombo, teaplah kita memakai atau terikat Dalihan Natolu itu. Tetaplah kita menabalkan cita cita agar Sigolang Nauli bisa terlaksana,, cepat atau lambat. Syaratnya pahami, apa yang saya sampaikan dan mental kita revolusi dari egoisme, hedonisme dan individualisme. jauhkan itu. terimakasih, saya ada waktu bicara ini karena pas topiknya tepat atas status lae Z.Ritonga, seoarng perantau Sigolang.

Selasa, 17 Desember 2019

NATAL SA RESORT HKBP SIMANGAMBAT DI HKBP SIGOLANG.


NATAL SA RESORT HKBP SIMANGAMBAT DI HKBP SIGOLANG.

Meliput dari jauh, dari Jakarta, kegiatan Natal sa REsort HKBP Simangambat di Sigolang, tentu menarik dari keseruannya.

Adalah sukacitaa yang luar biasa bagi jemaat HKBP Sigolang, mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Natal 2019 Satu Resort.Hari Sabtu, malam tanggal 15 Desember 2019, Ini patut dicatat sebagai sejarah, puncak perhelatan Natal yang biasanya hanya satu huria.

Natal tahun 2019 ini, dihadiri tentu oleh Pendeta Redsort, Huria Simangambat, Sipagimbar, Ulumamis, Damparan, Hutarame, dohot naasing yang tidak saya sebut. Apa saja yang terjadi, rundown acara, tentu tidak dapa saya liput dari Jakarta, hanya dapat cerita dari ito Yeanne Pasaribu, mengatakan acaranya ramai dan gembira sukacita semuanya.

Dengan dipasangnya Lilin listrik yang megah dihalaman, menambah meriahnya penampakan waktu malam. Dimana nampak lilin besar menjulan, dengan warna warni lampunya. Ibarat Gereja itu tampak dikota besar, bukan seperti di Sigolang yang dahulu. Saat ini berubah. Ini hasil kreasi dan kerjasama Jemaat perantau yang muda muda. Terimakasih ya bagi kalian yang punya ide dan gotong royong untuk pembiayaannya. Ternyata kita bisa jika kita bersatu didalam semangat kasih Tuhan Yesus Kristus.

Sukses ini tidak lepas dari kerjakeras jemaat yang dipimpin oleh Guru Huria Z.Hasibuan dengan didukung semua Parhalado dan jemaat yang selalu baik hati mau menyiapkan konsumsi semalam sebelumya. Gotong royong di Gereja, nampak dari foto bersama naposo bulung, memasak lauk pauk untuk besoknya. Ini tradisi yang luar biasa, harus dipertahankan oleh masayrakat HKBP Sigolang.

Selmat hari Natal 2019 dan jelang Tahun Baru 2020.

Ronsen LM Pasaribu.