Senin, 18 November 2019

MAGODANG AEK SIGOLANG.

MAGODANG AEK SIGOLANG.

Sebuah cerita derita penduduk Sigolang yang hampir semua petani, ketika Aek Sigolang banjir. Istilah lokal, magodang aek.

Magodang aek, lebih halus bahasanya dari Banjir. kalau Banjir, pastilah menyusahkan petani kita. Susah karena airnya menerjang apa saja yang dilaluinya dengan volume yang berlebihan.

Apa saja akibat kalau ada aek magodang?. Jika hujan datang berturut-turut sehari saja, hati hati, petani harus cepat cepat pulang, sebelum datang banjir.

Semua akan susah, misalnya dia akan "haboroan", tak bisa melewati sehingga dengan terpaksa menginap satu malam. Jika sopo atau bangunan di sawah bagus masih mending, jika terbuat dari papan ada kamarnya masih enak tidut. tapi kalau tidak. Dingin dan basah, tak ada yang bisa dibakar, semua serba basah. itulah suasana susahnya jika haborotan di sawah.

Ada tingkat yang lebih parah, yaitu menerjang pinggiran sawah yang berliku menjadi lurus dibuat air itu. Ini yang menyedihkan. Sawah yang sudah puluhan tahun, diterjang habis, akhirnya luas sawah jadi berkurang. Sebaliknya sungai, semakin luas.

Kedu, tahalak atau "dam" yang dibangun untuk menahan agar air bisa naik, mengaliri saluran air. kPanjangnya tergantung jauh dekatnya ke sawah yang ketinggiannya relatif dibawah. oleh karena itu harus dibuatkan dam, rata rata terbuat dari batu besar. JIka hujan datang, tahalak atau dam ini diterjang jga. ini pertama yang terpikir bagi petani, apakah tahalaknya rata?. Jarang petani menangis jika ada kejadian ini, kenapa?. Karena petani di Sigolang sudah terbiasa mendapatkan musibah alam seperti ini.

Kedua, tahalak atau "dam" yang dibangun untuk menahan agar air bisa naik, mengaliri saluran air. kayu-Panjangnya tergantung jauh dekatnya ke sawah yang ketinggiannya relatif dibawah. oleh karena itu harus dibuatkan dam, rata rata terbuat dari batu besar. JIka hujan datang, tahalak atau dam ini diterjang jga. ini pertama yang terpikir bagi petani, apakah tahalaknya rata?. Jarang petani menangis jika ada kejadian ini, kenapa?. Karena petani di Sigolang sudah terbiasa mendapatkan musibah alam seperti in
bekas Aek magodang, sering kuliat waktu masa kecilku, jenis kayu dan biji-bijian kayu. Masih segar ingatanku, kayu tusam yang bisa dibakar untuk penerangan. Paske, biji yang digunakan untuk bermain paske. Waduh ternyata masa kecil, walau musibah yang daang, sekejap ada sukacita kalau menemukan benda benda aneh yang sulit didapat.

Jika dipikirkan leih jauh, akar masalahnya sebenarnya adalahkarena di hulu banyak yang menebang hutan. sehingga air tak ada yang menahan atau paling tiddak airnya cepat meluncur. seperti air tumpah. Inilah masalah yang harus dianggap musuh bersama terutama kampung Ulumamis yang berada di hulu, berakibat di hilir yang merasakannya.

Magodang aek, sebuah fenomena lingkunan yang tidak disuka tapi sebuah cerita suara alam yang tidak populer namun apa daya itulah beria kepada kawan, ibarat lagu Ebit G Ade, yang berpesan jangan memperkosa alam. Hargai, pelihara sebab disanalah sumber kehidupan kita.
Jakara, 19 November 2019 pkl. 01.42 WIB. RP.


EmoticonEmoticon