Minggu, 24 November 2019

TAGOR TAMPUBOLON, SANG KOMPONIS BATAK MASA KINI Oleh Ronsen LM Pasaribu

TAGOR TAMPUBOLON,
SANG KOMPONIS BATAK MASA KINI
Oleh Ronsen LM Pasaribu
Sebagai pemerhati dan pecinta lagu-lagu batak, Undangan 35 Tahun : Tagor Tampuboolon berkarya, dibawah tag line “Tangiang ni Dainangi” di Toba Dream, Jumat 7 Juli 2017, pukul 19.00 WIB tidak saya sia-siakan. Rasa penasaran mendorong diri saya untuk berkorban, pergi menonton karena ekspektasi kepuasan mendengar penyanyi-penyanyi papan Atas segmen lagu batak seperti Victor Hutabarat, Joy Tobing, Margareth Siagian, RNB Trio, Buntora Situmorng, Tagor Tampubolon sendiri, dan lainnya seperti The 2 Ins (anak Eddy Silitonga,Alm), Family Trio dengan MC Vanda Hutagalung.
Ruangan Toba Tabo dengan tehnologi yang peringkat atas di rumah panggung di Jakarta, seakan menyempurnakan semua stage seniman batak kali ini. Dan, penikmatnya lagu batak, juga tampak penuh, seperti Otto Hasibuan, Syukur Nababan, Nurdin Tampubolon, Berlin Tampubolon, Ronsen Pasaribu, dan banyak lagi yang saya tidak mengenalnya berbaur, tak bergeming sejak awal sampai akhir.
Lahir di Huta Panombean, 12 Juli 1959, dari keluarga seniman, ayahnya Fridolin Tampubolon dan ibu Rency br Simanjuntak, mengawali nekat ke Jakarta tahun 1976.  Bercita-cita jadi orang berhasil dibidang seni musik dan cipta mencipta lagu. Sosok Johannes Purba, sang idola yang banyak memberi ilmu seni dan cipta mencipta lagu.
Usia 18 Tahun, mencipta lagu yang dibawakan Eddy Silitonga dengana judul “Poda”. Ini pintu pandora bagi beliau, mencipta lagu berikut karena mendapat pengakuan masyarakat. Berikut meluncur lagu-lagu lain semuanya menjadi “hits” seperti “anakkonhu” oleh Hutauruk Sisters, “Didia ho Among” oleh Nur Afni Octavia, “Butet” oleh Eddy Silitonga, “Alani hot oleh Ade Manuhutu, “Inangku oleh Diana Nasution”. 
Namun demikian, Victor Hutabarat yang paling banyak membawakan lagu Ciptaan Tagor Tampubolon seperti : Tangiang ni Dainang, lalu Rita Butar-butar duet dengan Jhony Manurung “Nadua gabe sada”.  Dalam perkembangan, lagu Tigor ini menjadi lagu yang dibawakan papan atas Indonesia seperti Edo Kondologit (Papua) dan Herman Delago (Austria) membawakan lagu Poda dengan Aransemen Vicky Sianipar. Trio Ambisi, Trio Lamtama, Trio Alexis.
Seorang Tagor Tampubolon, selain menciptakan pop batak, juga lagu-lagu Rohani, khusus untuk HKBP.  Misalnya yang hits yaitu lagu “Partondion oleh Victor Hutabarat” dan “Ompu Nomensen oleh Sembilan Pencipta lagu’.  Catatan ini hanya beberapa yang hits, namun masih ada “enam ratusan” yang beredar dalam bentuk CD dan VCD sampai saat ini.
Menyaksikan penampilan malam ini, patut para hadirin dan termasuk saya mengucapkan “selamat  dan apresiasi” atas seorang Pencipta lagu yang sangat produktif, dengan jalur musik yang populer diterima oleh semua segmen pendengar, tua muda dan anak anak sekalipun senang dengan lagu ciptaannya. Malam ini, yang mencuri perhatianku yang paling besar adalah Tangiang ni Dainang dibawakan Victor Hutabarat, Didia ho Amang dibawakan Joy Tobing.
Dalam catatan saya, Tagor Tampubolon sudah bisa disejajarkan dengan Komponis pada jamannya, yaitu Nahum Situmorang, S.Dis dan Rinto Harahap. Ketiganya sudah almarhum tapi ciptaannya selalu dinyanyikan di segala acara.
Ciptaan S.Dis dengan lagu monumental “O Tano Batak, Borhat ma dainang, Boasa dung Bot Ari, Adong huida sada bunga, dan lainnya dimana proses penciptaannya selalu didiskusikan dengan Nahum Situmorang, baru dinyanyikan oleh Keluarga. Setelah itu baru dinyanyikan ke umum. 
Demikian diceritakan Alm Ny. Nurmala Sitompul-Panjaitan kepada saya waktu beliau hidup. Lagu lagu itu, banyak dinyanyikan oleh sang Cucu yang kita kenal dengn penyanyi papan atas juga di lagu batak dan populer “Christine Panjaitan”. 
Dengan melihat produktifnya pencipta lagu batak, sejak Nahum Situmorang, S.Dis, Ismail Hutajulu, Soaloon  dan banyak lagi dan terakhir Tagor Tampulonon. Membuat kita optimis trend lagu batak akan bergerak meningkat terus sebagai upaya membangun budaya seni dan produksi lagu-lagu yang mampu mendongkrak kesejahtraan musisi orang batak. Ini missi beliau yang disampaikan ke saya, dalam bincang malam hari itu. 
Sedang realitanya, pandangan pessimis selalu muncul dari musisi orang batak. Akar masalahnya bukan karena orang batak tidak senang lagu batak, bahkan sangat disenangi namun industri musik ini yang belum menemukan formulasinya. Bajakan hak cipta yang menghantui, pembayaran hak cipta yang tidak diindahkan, termasuk regulasi hak ciptanya termasuk pengawasan dari aparat hukum yang masih sangat lemah. Kapan bisa diatasi kompleksitas permasalahan ini?, perlu gerakan massal bagi semua stake holder, menurut saya.

Saran buat Seniman masa kini.
Asa masih kita kibarkan, sepanjang kita masih senang seni musik, selama itu kita berharap musik itu eksis, maju dan profesional sehingga kelak suatu ketika, setiap lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi dalam even komersil akan otomatis bisa di bebankan pajak dan transfer otomatis kepada pencipta. 
Seniman bisa menerimanya dalam bentuk pensiun sampai meninggal, seperti apa yang dialami oleh sahabat saya, Thomson Napitupulu, yang berkecukupan menikmati hasil karyanya selama aktif di bidang Seni di Perancis, luar Negeri dimasa pensiunnya. 

Model ini sebagai raw model dibidang budaya kesenian ini harus kita bangun, supaya bakat seni suara dan musik lagu batak bisa menjadi bidang profesional sumber hidup dan penghidupan pelaku seni ini. Penikmat lagu juga perlu di didik menghargainya dengan membayar hak cipta setiap melagukan lagunya di tempat komersil.
Jayalah Musik Indonesia, Jayalah Musik Bataak, Jayalah Seniman Batak.

Jakarta, Selasa, tanggal 11 Juli 2017. Pkl. 20.20 WIB. repost tanggal 25nOvember 2019. www.ronsenpasaribu.com.


EmoticonEmoticon